5 Februari 2018
DKPP RI "Untuk Kemandirian, Integritas dan Kredibilitas Penyelenggara Pemilu"
  • Home
  • Aktifitas
  • Alfitra Salam: Penyelenggara, Jangan Mudah Digoda, dan Tergoda

Alfitra Salam: Penyelenggara, Jangan Mudah Digoda, dan Tergoda

Selasa, 27 November 2018
86 dilihat

Kendari, DKPP - Sesi pertama pada kegiatan Pendidikan Etik Penyelenggara Pemilu Kabupaten/Kota se Provinsi Sulawesi Tenggara, Anggota DKPP Dr. Alfitra Salamm dan Prof. Teguh Prasetyo menyampaikan materi tentang "Evaluasi Penegakan Kode Etik Penyelenggara Pemilu di Provinsi Sulawesi Tenggara" dan juga "Sejarah dan Kelembagaan DKPP" kepada para peserta di Kelas C yang bertempat di Ruang Crysant Hotel Grand Clarion Kendari, pada Senin (26/11).

Kegiatan ini adalah rangkaian Pendidikan Etik Bagi Penyelenggara Pemilu Se-Sulawesi Tenggara. Setelah kegiatan dibuka oleh Ketua DKPP Harjono, peserta dibagi menjadi tiga kelas dengan konsen pembelajaran yang berbeda. Tiga kelas tersebut terdiri dari kelas A, B, dan C. Kelas C terdiri dari komisioner KPU dan Bawaslu dari Kab. Buton, Kab. Buton Selatan, Kab. Buton Utara,  Kab. Buton Tengah, dan Kab. Bombana.

Sesaat sebelum narasumber menyampaikan materi, ditayangkan video terkait materi yang akan disampaikan. Mengawali paparannya, Alfitra Salamm menyampaikan bahwa meskipun Sultra bukan daerah dengan jumlah pengaduan tertinggi, namun menjadi konsen DKPP selain Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Papua. Oleh sebab itu, DKPP memenadang perlu untuk menyelenggarakan kegiatan Pendidikan Etik di provinsi ini.

Berdasarkan data-data yang diolah DKPP, Alfitra menilai Sultra menunjukkan tren dengan jumlah pengaduan yang makin meningkat. Oleh karena itu, dia berpesan kepada seluruh peserta untuk selalu bertindak hati-hati sesuai regulasi, dan juga tetap waspada. Hal ini tidak mudah sebab menjadi penyelenggara dituntut untuk menjalankan tugas dan fungsinya sesuai aturan, menjaga integritas, serta menjaga perilaku pribadi yang kadang terabaikan.

"Menjadi penyelenggara itu sulit. Kebebasan anda dibatasi, namun bukan berarti dikekang sama sekali. Spirit juga mesti dijaga dengan tetap memeperhatikan hal-hal sepele, " ucapnya.

Pada saat yang sama, Prof. Teguh Prasetyo menambahkan bahwa pemilu adalah alat demokrasi untuk memilih pemimpin secara periodik. Sukses tidaknya pelaksanaan pemilu bergantung kepada kinerja para penyelenggaranya, sehingga penyelenggara memiliki tugas dan amanah yang berat dalam memilih calon pemimpin yang berkualitas. Pemilu di Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan segala persoalannya yang sangat rumit, membutuhkan penanganan secara mendalam atau khusus.

"Suara rakyat adalah suara Tuhan, dan penyelenggara mesti menjaganya. Penyelenggara memiliki visi mulia, karenanya jangan mudah digoda dan jangan mudah tergoda. Harus punya komitmen dan integritas diri," tuturnya. [Nur Khotimah - Sandhi]