5 Februari 2018
DKPP RI "Untuk Kemandirian, Integritas dan Kredibilitas Penyelenggara Pemilu"

Pemuda, Waspadai The Digital Dictatorship

Selasa, 02 Oktober 2018
108 dilihat

DKPP, Bogor – Integritas Penyelenggara Pemilu adalah kunci terlaksananya demokrasi yang bermartabat. Dalam rangka menegakkan demokrasi yang bermartabat ini, sudah sepatutnya HMI turut andil dalam proses-proses menjaga integritas. Mengapa, sebab intelektualitas dan independensi HMI sudah terbukti.

 

Hal ini disampaikan oleh Anggota DKPP, Alfitra Salam, saat didaulat menjadi narasumber dalam Sekolah Pimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (SEPIM HMI) Tahun 2018 dengan tema materi “Desain Strategis Mengawal Demokrasi Indonesia yang Bermartabat” yang diselenggarakan di New Panjang Jiwo Resort, Bogor, pada Selasa (2/10) siang.

 

Mengawali uraiannya, Alfitra menyampaikan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan sosial yang perlu aktif berperan sebagai duta pengawal demokrasi Indonesia. Dalam upaya mengawal demokrasi yang bermartabat itulah, jika memang menemukan pelanggaran, supaya dapat melaporkan. Atau semisal menemukan penyelenggara pemilu yang bekerja tidak sesuai aturan yang dipersyaratkan regulasi, tidak sungkan untuk melapor kepada DKPP, baik secara langsung, maupun tidak langsung melalui surel.

 

Alfitra juga menekankan kepada semua peserta bahwa setiap pemuda adalah sumber berita bagi komunitasnya, sehingga diharapkan selalu menyebarkan berita-berita positif/baik. Menurut dia, saat ini Indonesia telah dikuasai dictatorship digital yang menyebabkan begitu besarnya berita hoax. Hal ini mendidik otak kita untuk selalu mengkonsumsi informasi dengan serba tergesa dan tanpa kedalaman.

 

“Begitu banyak media online yang hanya menyajikan berita-berita pendek, dangkal dan alakadarnya. Jutaan status di media sosial yang lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Jarang ada kedalaman analisa didalamnya,” tutur dia.

 

Masih menurut Alfitra bahwa berdasarkan penelitian, pengguna Facebook terbesar di dunia adalah Indonesia dengan rata-rata orang mengakses dalam sehari sebanyak 150 kali, atau bisa dibilang lebih dari 1 jam 15 menit dalam sehari. Bisa dibayangkan begitu besarnya intensitas orang untuk melihat informasi. Dan memang kita dikuasai oleh digitalisasi, ini tren terbaru.

 

Mengakhiri uraiannya, Alfitra berpesan agar HMI senantiasa menjaga nama baiknya, menjaga independensi dan intelektualitasnya, serta dapat memberikan pendidikan politik kepada masyarakat menjelang Pemilu Serentak tahun 2019 mendatang.

.

“Kita tahu, masyarakat kita lebih fokus pada pilpres dan ini akan mengurangi tingkat pengetahuan masyarakat tentang calon-calon pemimpin di DPR, DPRD, dan DPD. Keserentakan ini tidak menjamin pemilihan wakil-wakil yang bagus kapasitas dan kapabilitasnya,” tutupnya. {Nurkhotimah}