5 Februari 2018
DKPP RI "Untuk Kemandirian, Integritas dan Kredibilitas Penyelenggara Pemilu"

Malaysia Juga Bisa Belajar dari Indonesia

Kamis, 17 Mei 2018
246 dilihat

Jakarta, DKPP - Malaysia telah melakukan suksesi pemerintahan. Partai berkuasa, UMNO kalah oleh partai oposisi, Pakatan Harapan melalui Pemilu. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Pemilu negeri jiran tersebut.  

Menurut Alfitra Salam, ada beberapa alasan penyebab partai berkuasa itu kalah oleh partai oposisi. Pertama, Mahatir Muhamad sebagai partai oposisi telah berhasil mengangkat isu yang menyentuh kaum muda. Isu tersebut terkait dengan ekonomi misalnya menghapuskan pemberlakuan pajak barang dan jasa (GST) sebesar 6 persen. GST ini menggantikan pajak penjualan dan layanan sebesar 5-15 persen serta diberlakukan sejak 2015.  pajak atau kenaikan harga-harga.  

“Dengan kenaikan ini mengancam generasi muda,” katanya dalam diskusi bersama media dengan tema “Analisis Pemilu Malaysia dan Pelajaran untuk Indonesia di Lobi Bawaslu, Rabu (16/5/2018). Selain Alfitra Salamm, pembicara lain adalah Harun Husein, jurnalis penulis buku Pemilu Indonesia, Fakta, Angka, Analisis dan Studi Banding. Diskusi dimoderatori oleh Latief Siregar, penyiar Radio Trijaya FM.

Kedua, lanjut dia,  isu korupsi yang dilakukan oleh penguasa, Najib, perdana menteri. Clean Government menjadi menarik perhatian masyarakat Malaysia. Najib tersandung kasus korupsi sebesar 1MBD.  “Anak-anak muda meyakini bahwa Najib itu seorang koruptor,” katanya.  

Faktor ketiga,l anjut dia, lambannya partai berkuasa melakukan reformasi. UMNO sangat lambat melakukan reformasi. Apabila UMNO seperti Indonesia melakukan reformasi sejak 20 tahun lalu, mungkin kasus-kasus seperti sekarang ini tidak terjadi. Tidak ada regenerasi di partai tersebut sehingga terjadi penumpukan para kaum tua di tubuh UMNO.  “Saya kira perlu belajar ke Indonesia. Meski di sisi lain Indonesia juga bisa belajar ke Malaysia,” katanya.

Pelajaran menarik dari Pemilu di Malaysia kemarin adalah sangat berkurangnya isu politik identitas atau SARA. Berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, isu polintik identitas sangat kental. “Sekarang isunya soal ekonomi,” jelas ketua umum Asosiasi Ilmu Politik (AIPI) itu.

Harun Husein mengatakan, dampak di Malaysia bisa berpengaruh terhadap Indonesia. Sama seperti era Reformasi 1998 di Indonesia berpengaruh juga terhadap Malaysia. Anwar Ibrahim menggulirkan isu gerakan reformasi untuk melawan Mahatir Muhammad, ingin Malaysia seperti Indonesia. “Menurut Samuel Huntington dalam tesis regional concentration factor, apa yang terjadi di negara tetatangga kita berpengaruh terhadap kita,” pungkasnya. [Teten Jamaludin